EKSPEDISI CIRAHAYU (EPISODE 2)

Catatan Oleh : Abi Mata Kalahari

Silahkan Play Video Berikut ini untuk dapat gambaran Audio Visual mblusukkan kali ini

Stasiun Cirahayu, sebuah Stasiun kereta api yang letaknya terpencil di wilayah kabupaten Tasikmalaya, terletak di ketinggian 619 mdpl. Dari arah Bandung stasiun ini terletak setelah Ctasiun Cipeundeuy, jaraknya sekitar 8 kilometer dari Cipeundeuy, sedangkan dari arah Banjar stasiun ini berada 4 kilometer setelah stasiun Ciawi.

Sudah lama ingin hunting foto kemari. Informasi dari beberapa teman Railfan, akses untuk masuk ke Stasiun ini cukup sulit, tidak ada kereta yang berhenti normal, bahkan untuk silang antara kereta saja jarang terjadi. Pun demikian jika menggunakan akses Bus, sama-sama sulit.

Setelah aku berhasil hunting ke Spot Lebak Jero akhir tahun lalu yang pemandangannya luarbiasa dan juga tidak ada kereta yang berhenti normal kecuali Argo Gentong, kali ini aku tertantang untuk masuk ke Spot Cirahayu. Buatku ini sangat menarik karena kebetulan hobiku lintas alam dan menyukai lenggak-lenggok kereta api di pegunungan, tentunya ini sebuah kolaborasi yang sangat sempurna jika masuk ke spot Cirahayu dengan berjalan kaki.

Adalah Egief Del Haris atau lebih dikenal di Facebook sebagai Juragan Tahu alias JT. Teman-teman Railfans menjulukinya sebagai The Railway Trackers dan Sang Penakluk Jembatan, Hampir semua Jembatan-jembatan Kereta Api yang tinggi dan panjangnya Ratusan meter sudah berhasil ia taklukkan baik sekedar menyeberangi dengan berjalan atau berlari maupun memanjatnya dengan tangan kosong alias tanpa pengaman. Maklum, ia adalah alumni Pendaki Gunung dan Pemanjat Tebing yang kesasar di Dunia Perkeretaapian serta lebih cenderung menikmati dunia barunya sebagai Railfans.

kali ini JT akan menjadi teman trekkingku, aku memilih JT karena menurutku sepak terjangnya di dunia perkeretaapian terlebih untuk masalah mblusukan sangat bisa diandalkan, belum lagi ia adalah Railfans pertama yang berhasil menginjakkan kaki di Cirahayu, dengan berjalan kaki seorang diri menyusuri lereng bukit dari ciawi saat mentari memasuki senja. Secara sederhana, Buatku ia pilihan yang pas.

Perjalanan dimulai tepat pukul 21.00 dari Stasiun Bekasi, harapanku perjalanan selama lebih dari lima jam akan memberikan hal-hal menarik yang selama ini jarang kutemukan, sengaja moda yang digunakan bukan kereta kelas Argo yang biasa kugunakan untuk Travelling. Pilihannya hanya satu kereta, K3 Serayu Jakarta-Kroya yang sering di Plesetkan sebagai KA Senja Utama Kroya. hee… he…

Buatku tidak masalah, toh memang sudah kuniatkan untuk Ekspedisi meski semua gerbong penuh. Kereta malam sabtu tepat liburan panjang kali ini luar biasa padat, mulai kereta dari kelas Argo sampai kelas Ekonomi, malah banyak penumpang yang masih antri namun tiket sudah tidak bisa dijual karena kuota 150% sudah terjual semua.

Malam semakin larut, udara semakin dingin. Aku terpaksa duduk di belakang Lokomotiv setelah stasiun Karawang, didalam aku sama sekali tidak kebagian jatah meski itu untuk berdiri sekalipun. Beruntung CC 20157 dinas LH ( hidung panjang ) sehingga ada ruang untuk sekedar berselonjor meski udara dingin menjadi lawan sebanding ditambah suara mesin yang menyeruak keras, belum lagi sekali-sekali Semboyan 35 terdengar mengagetkan kesadaran. Namun aku senang, malam sangat cerah, langit Purwakarta kulihat bintang gemintang bertaburan, cahayanya terang benderang kelap-kelip. Di bumi Purwakarta juga tak kalah bagus, lampu-lampu rumah penduduk sangat ramai benderang, kulihat dikejauhan Bendungan Juanda Jatiluhur lebih ramai oleh lampu-lampu malam. Sangat Indah. Hal menarik berikutnya adalah jalan Tol Cipularang yang melintang dari Jakarta menuju Bandung, sayangnya aku tidak sempat melihatnya, mataku terpejam sesaat di gerbong terdepan, lumayan JT memberikan tempat duduknya selama 30 menit.

Malam ini memang hanya Bintang di langit yang menjadi hiburanku namun itu sudah lebih dari cukup karena kupikir apalagi yang bisa kuharapkan ketika melintasi pegunungan dan persawahan. Sepanjang petak Nagreg – Cipeundeuy pemandangan di luar lebih beragam, Bintang melompat-lompat diantara perbukitan dan pegunungan, kadang kulihat cahaya berwarna merah dari tiang-tiang BTS.

Di petak Lebak Jero kereta melaju saling berkejaran dengan sebuah pesawat terbang, sampai akhirnya pandanganku teralihkan dengan taburan Bintang yang lebih banyak lagi di petak Leles, luar biasa, Subhanallah.
Tepat pukul 03.00 KA yang juga dikenal dengan nama Citra Jaya memasuki Stasiun Cipeundeuy, agak telat dari schedulle kedatangan di Gapeka, pukul 02.12. Aku bergegas turun dan duduk dikursi panjang sambil melempangkan kaki, Alhamdulillah perjalanan part I baru saja berakhir.

Di Stasiun ini kulihat banyak petugas sibuk mengecek kondisi kereta, paska peristiwa tergulingnya Kereta Galuh – Kahuripan di jembatan Trowek pada tahun 1995, semua kereta termasuk kereta kelas Argo harus berhenti di stasiun yang dikenal Sakti ini untuk pemeriksaan rem.

Yup, mengutip kalimat pak Nanda yang juga sebagai PPKA yang bertugas malam itu “ Cipeundeuy ini stasiun Sakti, letaknya berada di tengah yang paling tinggi. Ke arah Bandung jalannya menurun dan kearah Banjar pun kondisinya tidak jauh berbeda, sehingga dengan ketinggian elevasi stasiun Cibatu 612 mdpl dan Cirahayu 619 mdpl maka stasiun Cipeundey berada ditengah tertinggi, tinggi Stasiun Cipeundeuy sekitar 772 mdpl “.
Udara semakin dingin, petugas stasiun Cipeundeuy nampak bersiap untuk mengecek kondisi kereta Lodaya yang sebentar lagi akan masuk dari arah timur. JT kulihat menyerahkan souvenir CD untuk KS Cipeundeuy, salah satu anak bangsa yang sangat mencinta kereta ini kukenal cukup militan jika bicara tentang kereta api, entahlah apa yang ia cari selama ini, mungkin akan kutemukan di Cirahayu nanti.

Usai Lodaya meninggalkan Cipeundeuy aku merebahkan diri di musholla, lumayan 90 menit melempangkan punggung dan kaki-kaki. Istirahat ini kubutuhkan sebagai modal trekking di pagi hari, 8100 meter sudah menunggu untuk dijelajahi.

Tiba-tiba aku terhenyak kaget, rangkaian kereta Turangga baru saja masuk, kereta kelas satu jurusan Surabaya Bandung khusus malam hari itu datang tepat waktu. Alhamdulillah masinisnya menyaringkan Semboyan 35, aku lalu sholat subuh bersama beberapa penumpang Turangga yang mau bersujud sejenak di pagi yang menggigil. Sesudah Turangga, terdengar derap kereta terakhir dari timur. Tak lama “Kahuripan” masuk di jalur satu, petugas sibuk memeriksa ulang sistem pengereman sedangkan aku dan JT sibuk sarapan pagi. Segelas teh manis panas menjadi teman mengunyah nasi kuning dan gorengan hangat, rasanya luar biasa, suasana yang jarang kutemukan di kota Jakarta.

Perut kenyang, kaki-kaki sudah merasa nyaman, perlengkapan di siapkan. Diskusi sebentar untuk memutuskan apakah menggunakan angkutan menuju Wage lalu melanjutkan 3 kilometer sisanya atau melintas 8100 meter yang sudah membentang didepan mata.

“ Ya udah Gief, pagi ini luar biasa menarik, kita jalan kaki aja. Gw mau merasakan sensasi nyeberang jembatan bro ! “ ujarku menetapkan keputusan bersemangat, aku yakin JT menunggu keputusan ini dan kupikir pilihan naik angkot ke Wage yang ia tawarkan kepadaku hanya tawaran basa-basi karena ia sudah memutuskan nya sebelum kami naik K3 Serayu. Ia pun tersenyum sumringah.

Kahuripan meninggalkan Cipeundeuy, udara masih terasa dingin, tak terasa kedua telapak tanganku mulai bercumbu saling menghangatkan diri. Matahari semakin lama semakin berani menampakan sinarnya, alam Cipeundeuypun semakin terlihat lebih jelas. Aku dan JT mulai mengawali trekking dengan berfoto di Gapura stasiun Cipeundeuy, selanjutnya perjalanan dimulai.
Bagi JT trekking kali ini pasti tidak ada artinya, ia sudah biasa mblusukan seperti ini bahkan di Facebooknya bisa kutemukan gambar-gambar serta tulisan nya ketika trekking ke Trowek ( Cirahayu ) dan yang menarik ia melakukannya MALAM HARI. Sebuah ide perjalanan yang konyol.

Buatku ini pengalaman pertama yang tentu saja luar biasa, aku harus melintasi rel kereta api yang membentang diantara perbukitan, treknya menurun berkelok-kelok, aku juga harus menyebrangi dua jembatan yang panjangnya sekitar 20 – 30 meter. Mataku di hadiahi pemandangan pegunungan yang indah, banyak binatang – binatang yang dengan bebas berkeliaran di sekitar hutan – hutan kecil seperti misalnya Elang Jawa yang tampak bertengger nyaman di pepohonan tinggi menjulang. Aku menemukan kerendahan hati penduduk sekitar, wajah-wajah pribumi yang memancarkan keramahan sejati, rumus-rumus kesahajaan bisa kupelajari dengan jelas. Banyak yang kutemukan sepanjang 8100 meter, dari mulai anak-anak sekolah yang berjalan kaki beberapa kilometer demi menetapi jam masuk, pun aku menemukan lelaki dan perempuan yang mencari rezeki di hutan sekitar, petani-petani yang siap menanam bahkan memanen hasil tangannya 4 bulan lalu, tampak lelaki tua menggendong dua bilah bambu usang berisi air Kawung yang akan dijadikannya Gula. Mereka benar-benar sejati.

Di Kilometer 6,700 aku bertemu dengan Petugas JPJ ( Juru Penilik Jalan ), kami sempat berdiskusi beberapa saat tentang tugas – tugas mereka dan tentu saja apa yang mereka dapatkan baik itu pengalaman duka maupun suka. JT masih sibuk mengabadikan setiap momen menggunakan Handy Cam milik Yayan “ Gerbong Tampan “, temanku yang satu ini memang harus kuakui sangat kreativ, aku tak sabar untuk melihat hasil karyanya yang berupa movie dan pastinya akan menarik.

Menurut JT, petugas JPJ adalah petugas yang paling banyak berjasa dalam terselenggaranya sebuah perjalanan kereta api, pasalnya karena mereka tanpa mengenal cuaca dan waktu tetap setia mengawasi setiap jengkal rel yang akan dilintasi kereta api. Itu bisa kulihat semalam, sepanjang petak Lebak Jero sampai dengan Cipeundeuy aku sering kali menemukan orang-orang bercahaya sebesar lampu senter, mereka sibuk mengecek rel kereta api. Padahal bisa ku jelaskan dari semua petak itu sangat gelap, sepi dari keramaian, yang menjadi teman sejati adalah derik jangkrik dan bintang gemintang.

Di lima ratus meter terakhir JT banyak menjelaskan pengalamannya bertemu JPJ ketika mblusukan seperti ke Cirahayu dan ketika ke Sasaksaat, menurutnya petugas JPJ adalah urat nadi yang perlu di perhatikan kesejahteraannya dibandingkan pejabat-pejabat di PT. KAI. “ Bayangkan saja jika tidak ada petugas JPJ, lo bisa lihat kan longsoran tadi itu. Mereka itu yang membereskan sehingga laju kereta bisa terus ada, penumpang kan tahunya on time “ ujarnya menjelaskan seolah-olah membela kinerja para petugas JPJ, menurutku penjelasannya benar 100%.

Dan kami masih terus berjalan,
30 menit sebelum kedatangan kereta pertama dari arah Bandung, aku berhasil menemukan stasiun kecil itu. Dari sebuah kelokan aku seolah-olah menemukan salah satu surga fotografi bagi Railfan, nampak tiga buah bangunan berderet di sebelah kiri dengan pemandangan yang sangat “ Green “ ditambah aroma pegunungan tepat dibelakang bangunan-bangunan kecil itu.

“ Alhamdulillah “ ujarku bersyukur atas pencapaian ini, perjalanan yang cukup melelahkan itu berakhir dengan hamparan pengalaman baru yang menarik. Aku duduk diatas emplasemen melepaskan lelah sejenak seraya menikmati udara yang jauh dari polusi, sungguh terasa mendamaikan.

Lalu aku berdiri mendekati bangunan utama, dikiriku nampak seseorang sedang memangkas rumput liar yang tumbuh disekitar tanggulan. JT sudah tidak tampak, mungkin saat ini ia sudah bersandar di kursi panjang sambil mengobrol dengan PPKA stasiun Cirahayu yang katanya sudah lama dikenalnya.

“ Assalamu’alaikum “ kataku memberi salam yang kemudian dijawab penuh keramahan.
Aku masuk kedalam, di kursi panjang JT sudah duduk santai, aku bersalaman dengan petugas PPKA. Kami berkenalan, beliau mempersilahkan aku duduk di kursi panjang yang lain. Sejenak aku melempangkan kaki-kaki yang sejak beberapa jam lalu bekerja terus menerus, didinding kulihat jam sudah menunjukan pukul 08.30, tidak terasa aku berjalan kaki lebih dari dua jam.

Petugas PPKA melakukan komunikasi dengan PPKA sekitar Cirahayu, ini pertanda akan ada kereta yang akan melintas, sesuai Gapeka yang kupegang hasil rangkuman dari JT sebentar lagi akan masuk Kereta Pasundan (K3) dari Kiara Condong Bandung tujuan Surabaya Gubeng. Akupun bersiap-siap mengambil posisi untuk merekam Video, kelelahan yang belum usai hanya membawaku merekam disekitar stasiun, namun video yang kurekam ini tentu cukup sebagai hadiah original untuk anak lelakiku Wishnu yang sangat menggilai kereta. Pukul 08.45 rangkaian KA 150 Pasundan melintasi stasiun Cirahayu, PPKA berdiri diteras bangunan utama. Kameraku merekam CC 20109 posisi Hidung Panjang menarik 7 rangkaian K-3 dan satu rangkaian K-2. Kulihat didalam gerbong-gerbong tidak padat, hampir semua pintu-pintu tertutup rapat.

Kereta pertama baru saja berlalu, senang melihat kereta lewat didepanku apalagi mendengar suara deru mesin CC20109 di daerah terpencil namun aku agak kecewa atas hasil rekamanku yang gagal total. JT merusaknya tanpa sengaja, didalam rekaman videoku tampak JT tergopoh-gopoh keluar stasiun untuk merekam momen pertama.

Lima menit berlalu, suasana stasiun kembali sunyi. Aku masih berdiri melihat pemandangan sekitar, didepanku ada 3 jalur kereta, disekitarnya banyak rel-rel bekas dan bantalan rel yang terbuat dari kayu besi berserakan.

Aku berjalan mengelingi stasiun, kulihat ada kamar mandi yang cukup bersih dengan air yang bening lagi menyegarkan. Disekelilingnya banyak dijumpai pohon bambu, tumbuh pula pepohonan papaya yang buahnya besar-besar, kulihat ada beberapa yang sudah matang pohon. Di sisi yang lain kulihat pepohonan singkong muda, disisi lain kulihat dinding tanah yang dibalut hijaunya tanaman liar.
Selain bangunan stasiun, diujung ke arah stasiun Ciawi bisa ditemukan beberapa rumah warga. Ada juga warung yang menjual panganan kecil ala daerah terpencil, untuk sekedar menikmati indomie dan es mambo tidak perlu jauh-jauh dan mahal. Duduk-duduk di warung sambil memandangi sekitar Cirahayu juga memberikan pemandangan yang sedikit berbeda, apalagi dengan diskusi kecil menggunakan bahasa ibu ( sunda ), lagi berbeda suasananya.

Sesaat kemudian petugas PPKA yang baru saja kukenal bernama pak Kodir melakukan aktivitas dinas kembali, beliau sibuk berkomunikasi dengan petugas stasiun sebelah. Kulihat jam didinding menunjukkan pukul 09.00, sebentar lagi akan melintasi KA 5 Argo Wilis dari arah Bandung menuju Surabaya Gubeng.
Aku dan JT cepat-cepat mengambil posisi pengambilan gambar, aku masih mencari spot disekitar stasiun sedangkan JT mengambil gambar lebih keluar stasiun.

Taklama Argo Wilis melintas. Awalnya Argo Wilis yang beroperasi pertama kali 8 Nopember 1998 menarik 13 gerbong namun siang ini hanya menarik 7 gerbong saja, 5 gerbong penumpang dan satu gerbong BP ditambah satu gerbong restorasi.

Normalnya perjalanan sejauh 699 km dapat ditempuh selama 11 jam, namun jika melihat Gapeka baru memang lebih terlambat 47 menit dari rencana waktu ketika pertama kali dilahirkan. Bisa di maklumi karena track selatan memang berat.

Rekaman kedua masih kukatakan gagal, pasalnya lengkingan Semboyan 35 nyaris tidak terdengar. Meski deru mesin CC 20311 terdengar menggetarkan namun tanpa lengkingan Semboyan 35 semua terasa hambar.

Satu jam berlalu.
Jam sudah menunjukkan pukul 10.15, aku duduk beralaskan tanah merah di tengah kebun singkong, kamera sudah On Fire sejak tadi siap menangkap aksi KA 76 Lodaya dari Bandung tujuan Solo Balapan. Tak lama kemudian CC 201104 memasuki stasiun dengan kecepatan rendah, Semboyan 35 melengking sempurna menggetarkan sekitar menambah ketakjubanku akan aksi Lodaya yang siang ini menarik 7 gerbong. Sempurna !.

Dan petualangan singkatku harus di akhiri, cuaca di Cirahayu sudah semakin menggila, sangat panas. Matahari hampir berada di atas ubun-ubun kepala, sudah saatnya aku harus meninggalkan hingar bingar dunia perkeretapian sejenak, aku harus pulang demi pertandingan sepakbola yang akan digelar esok pagi.

Sambil menunggu KA 169 Serayu yang akan melintas dari arah Kroya menuju Jakarta Kota aku menyempatkan diri untuk menghilangkan bau keringat yang sejak tadi menghantuiku, air pegunungan terasa sangat menyegarkan dan memberikan energi tambahan setelah semalaman hanya memejamkan mata satu jam di Cipeundeuy.

Tubuh terasa menyegarkan, baju bersih tanpa keringat, udara sepoi-sepoi membelai mata yang sejak tadi ingin dibuai mimpi. Tanpa terasa aku merebahkan diri di kursi panjang, pikirku lumayan selama 60 menit memanjakan punggung dan mata. Sayangnya aku hanya bisa mendengarkan KA 169 sayup-sayup tanpa sanggup membuka mata lebar-lebar, aku sangat mengantuk.

Di akhir kisah aku terbangun pukul 12.20 atau satu jam setelah Cipuja berlalu, aku lantas bersiap-siap meninggalkan Cirahayu. Sholat Dhuhur di Qosor dengan Asyar, dan kemudian diakhiri berpoto bersama dengan petugas stasiun Cirahayu dengan latar belakang pegunungan. Luar biasa.

Aku lalu melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta menumpang Bus Budiman dan JT meneruskan petualangan ke Ciawi – Rajapolah – Indihiang bahkan Ciamis sampai dengan hari minggu tentu dengan berjalan kaki!.

Dari Cirahayu aku harus turun ke bawah menuju jalan raya menggunakan jasa Ojeg dengan tarif 10.000 perak sejauh +/- 4 kilometer jalan menurun berbatu, tidak bisa kubayangkan jika hari itu hujan bagaimana jadinya, jalannya sangat jelek lagi berbatu. Kemungkinan besar Ambyarrrrr terjungkal.
Syukurlah abang Ojegnya sudah berpengalaman trek sulit, aku diantarnya sampai depan komplek perumahan Pamoyanan. Dan kemudian melanjutkan perjalanan menumpang Budiman menuju Kampung Rambutan dengan cukup membayar 50,000 perak.

Link Video

2 responses to “EKSPEDISI CIRAHAYU (EPISODE 2)

  1. Wah seru nih “blusukan” sampai ke Trowek….dulu waktu kejadian tabrakan KA di sini, saya dapat info dari petugas menara pipa Pertamina di Cipeundeuy….siang itu mengendarai sepeda motor dari Cilacap. Sampai di Ciawi sekitar jam 14.00, setelah tanya sana tanya sini didapati jalan tembus ke lokasi yang cukup terjal. Sampai dibagian atas jalan kaki menuju lokasi…ada jalan setapak…dan sampai tujuan jam 16.00. lansung motret dan kumpulkan data…yah itu proses dapat foto tersebut….

    • memang susah pak yoes untuk dapat tembus ke spot ini,,,, sebelumnya belum pernah ada Railfans yang hunting disini disamping karena jalurnya yg susah diakses juga karena cerita2 mistis yang menyeertainya… tapi itulah disitulah seninya. saya Railfans pertama yang dapat sampai ke lokasi dengan berjalan kaki baik dari Ciawi maupun Cipeundeuy. ini merupakan kepuasan yang tiada tara. maklum selain sebagai Railfans, saya juga adalah mantan pendaki gunung. he..he….

Tinggalkan Komentar :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s