Nongkrong di Cirahong


Perjalanan untuk menelusuri jejak stasiun Cirahong dimulai pada tanggal 24 Januari 2009. Sebenernya sih gak ada niatan untuk mblusukkan kesana. Tapi sebagaimana biasanya, saya adalah orang yang suka pusing kalo memasuki hari libur. Alias bingung mau kemana ….


Ulah Sebagian Penumpang KA

Dan seperti biasanya juga, setiap sabtu sore, naluri railfans mengantarkan saya hingga stasiun Bekasi. (soalnya Cuma staisun ini yang terdekat dari tempat Kos saya. he..hee..). Nongkrong lama di Stasiun ini tidak lantas saya mendapatkan ilham begitu saja untuk take off ke Tasikmalaya. Karena sebelumnya sempat kepikiran untuk Jelajah ke Daop 5 Purwokerto dalam rangka mencari Jejak-jejak Jalur KA Eks SDS. Namun belum lama ide itu muncul, tiba-tiba terdengar suara merdu PPKA yang bilang kalo akan segera masuk di jalur 3 Kereta Odong-Odong yang sampe Purwakarta. Tanpa piker panjang lagi (karena pikiran saya cetek, dah mentok) langsung deh beli tiket ke Purwakarta. Lagian apa bedanya Purwokerto sama Purwakarta? Ah bisa anda tanyakan ke Orang Pemda setempat yang punya wilayah.

malaikat maut sering tugas  di atas jembatan kali bekasi

Peraturan No. 1 Team Penelusur Rel Mati adalah :
1. Beli 2 tiket !

Maksud dari aturan yang kami buat ini adalah berusaha untuk menyeimbangkan antara kebocoran (Freeman) tiket dengan dengan Kesadaran masyarakat akan arti pentingnya moda transportasi yang dalam sekali angkut bisa membawa ratusan bahkan ribuan jempol kaki. Tentu saja, hal ini tidak akan terlihat signifikan antara yang beli double ticket dengan mereka-mereka yang tanpa beli tiket sama sekali. Ibarat air di daun keladi, eh salah… maksudnya ibarat air, kita hanyalah setetes diantara lautan yang luas. Namun kami gak pernah minder, karena mudah-mudahan dari setetes yang kami berikan, lautan akan menjadi lebih luas lagi. Jika anggota kami bisa sampai 1000 orang, berarti kami menyumbang seribu tetes untuk lautan. Jika anggota kami bisa sampai 10.000 orang, berarti kami menyumbang sepuluh ribu tetes untuk lautan. Jika anggota kami bisa sampai 100.00 orang, berarti kami menyumbang seratus ribu tetes untuk lautan. Jika dan setersusnyaaa….. Betul tidak. ????

aku sudah bisa menebak, jika kereta yang saya naiki akan penuh penumpang, kalo kata wong jagapura sih “Sesek jubel”. Sesek artinya penuh, sedangkan jubel adalah kata untuk mempertegas makna kata sebelumnya. Seperti halnya Adem ayem, Abang Branang, Putih ngicis, Ijo royo-royo, Ayu beli kejagan, dll.

Sebenernya sih PT. KA mungkin bisa aja untuk menambah jumlah armada, tapi balik lagi ke masalah kesadaran masyarakat untuk membeli tiket. Biar sama-sama enak lah… soalnya kalo ditanya : Kenapa sampeyan naik di atap ? jawabnya “soalnya saya enggak beli tiket, jadi bisa naik gratis” dan pas ditanya lagi, “Kenapa pada enggak beli tiket?” dengan enteng mereka jawab ” soalnya percuma beli tiket juga gak bakalan dapet tempat duduk, masih mendinglah kalo bisa muat di dalem mah… lha wong penuh gini, gimana masuknya? Terpaksa deh naik di atap. Nah, berhubung sudah pasti (tepatnya direncanakan) naik diatap, makanya saya gak mau beli tiket. Toh kondekturnya juga gak mungkin iseng-iseng banget naik kea tap untuk meriksain karcis, ya enggak mas…? ”

Begitulah sebagian celoteh penumpang yang bisa tuangkan di Blog ini. Mudah-mudahan ada sebagian Pihak berwenang yang membaca artikel ini dan menjadikannya sebagai bahan pertimbangan untuk membuat kebijakan.

Ngomong-ngomong, dari tadi kita ngomongin apa ya… padahal khan jujdulnya nongkrong di cirahong …. Ya udah deh di lanjutin aja Mbacanya, toh saya juga (terpaksa) naik di atap. Abis mau naik dimana lagi … yang penting sampe tujuan. Urusan slamet atau tidak belakangan deh … seperti kata Gusdur, “Lha wong murah kok pengen selamet, piye toh…”

Tapi ini tidak berlangsung lama kok … memasuki stasiun Tambun, banyak penumpang turun di stasiun ini termasuk yang diatap. Pokoknya bedanya keliatan banget antara sebelum tambun dan sesudah tambun. Maka yang jadi pertanyaan saya berikutnya adalah Apakah Sebagian besar Penumpang tak bertiket ini berasal dari Tambun atau gimana? Pokoknya setelah berhenti cukup lama di Stasiun ini (karena bersusul) sudah tidak ada lagi penumpang yang kongkow diatap. Tapi wajar sih kalo kebocoran tiket banyak terjadi di Stasiun ini mengingat arealnya memang tidak dipagar. Bahkan saking dekatnya dengan jalan raya, sebagian masyarakat yang ingin ke Jakarta kadang bisa langsung naik Kereta Api tanpa harus masuk ke peron dulu, karena ekornya yang panjang melintangi jalan raya di sebelah timurnya. Tentu saja ini berkah bagi para penumpang yang tidak membeli tiket. Sekaligus musibah bagi para pengendara kendaraan bermotor yang melewati Palang pintu perlintasan. Karena dengan begitu mereka harus menunggu lama di Perlintasan akibat jalan mereka terhalang sama buntut odong-odong. Hal yang sama juga terjadi di Sta. Lemahabang.


Stasiun Purwakarta Ba’da Maghrib

Kereta rada telat (ah biasa), Sampai di Purwakarta kira-kira menjelang maghrib. Setelah istirahat sejenak dan magriban disana dilanjutkan dengan ngobrol ngalor-ngidul dengan Tukang warung, tukang ojek, tukang pulung dan tukang-tukang lainya. Entah kenapa, Stasiun Purwakarta ini menjadi stasiun Favorit saya setelah Kaliwedi dan Tanjung Priok. Terkadang saya suka menghabiskan hari libur disini hanya dengan duduk-duduk di rel sebelah selatan stasiun atau selonjoran di lapangan sambil ngliatin dipo lok yang sekarang sudah semakin uzur.

Tanpa terasa (setelah sempat dikira orang gila, bencong, PSK, dll yang berkeliaran di sekitar Stasiun ini) waktu berlalu begitu cepat. Tau-tau udah malem aja … namun sampai saat itu saya masih belum kepikiran untuk ke Tasikmalaya. Setelah ngobrol-ngobrol dengan pak Narizal (PPKA) akhirnya saya putuskan untuk ke Banjar. Dan kereta yang dinanti tiba (tepatnya telat).

Kereta melaju dengan termegap-megap, sepertinya dia kurang sehat karena dari tadi banyak bener “grak-grok”nya. Tapi Grak-grok ataupun tidak, kereta ini memeng sering berhenti meski bukan pada tempatnya. Biasa lah… banyak penumpang yang memberikan uang tips ke Masinis agar beliau mau menarik tuas rem di tempat yang mereka kehendaki, meskipun bukan stasiun. Mungkin ini juga yang menyebakban kereta ini telat di setiap perjalanannya. Kereta api yang punya aturan main dan Gapeka tidak dipedulikan oleh para penumpang-penumpang “usil” ini. Karena mereka bisa turun kapanpun dan dimanapun mereka mau. Bahkan bagi yang rumahnya di pinggiran rel, mereka bisa langsung turun di depan rumah hanya dengan mengeluarkan kertas bertuliskan Rp. 10.000. sungguh ajaib negeri ini. Kereta kita disamaklan dengan angkot. Tapi, biarlah.. itu khan mereka. Yang penting saya enggak. Malah saya dan kawan-kawan di TPRM selalu berusaha menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk cinta dan peduli dengan Perkeretaapian di Indonesia. Salah satunya adalah dengan menyumbangkan peta Large format dimana dalam peta tersebut terdapat tulisan “TERIMA KASIH TELAH MENGGUNAKAN LAYANAN JASA ANGKUTAN PT. KERETA API INDONESIA”. Itulah yang masih bisa kami lakukan hingga saat ini. Semoga yang lainnya menyusul.

serayu mogok
Serayu Mogok di Tikungan ini

Panjang lebar bercerita sampe-sampe enggak nyadar kalo kereta dari tadi mogok selepas Stasiun Nagrek. Tadinya sih saya sempat mengira kalo ada penumpang yang turun disekitar sini. Namun lama kelamaan kok kereta enggak jalan-jalan. Sekali jalan paling hanya beberapa meter lalu mundur lagi … dan lagi. Kontur dan Jalan rel disini memang terkenal curam, menanjak dan menurun tajam. Setelah berusaha cukup lama, akhirnya Kereta kita jalan juga meski dengan tergopoh-gopoh. Namun perjalanan seterusnya cukup lancar karena rel yang menurun.


Stasiun Cibatu euy…

Pukul 2.45 kereta sampai di stasiun Cibatu. Para petugas setempat dengan sigap memeriksa bagian demi bagian kereta yang sempat ngos-ngosan jalannya. Setelah di oprek-oprek cukup lama. Mereka memutuskan untuk menggandeng (atau menggendong? ) Ka Serayu dengan Lok yang lagi Mejeng (tepatnya Istirajat) di Sta. Cibatu.

Double traksi pun terpaksa dilakukan untuk membantu Stamina Lok Serayu CC201 yang loyo. Dan perjalanan kali ini dilanjutkan dengan penuh lika liku penumpangnya (Plus copet & kucing garong) serta liak-liuk jalan rel antara Cibatu – Cipendeuy.

Lelah, penat, ngantuk dan lain-lain bercampur menjadi satu laksana sayuran di ulekan gado-gado. Dan penyakit penumpang KA pada umumnya yang menyerang penumpang setelah makan pun menggerogoti saya. Tertidurlah jadinya. So perjalanan sepanjang Cibatu – Tasikmalaya ttidak bisa saya ceritakan karena saya sudah asik terlelap dengan mimpi. Kalo nyeritain mimpi juga kayaknya enggak akan berkesan apa – apa dimata sampeyan semua. Bahkan mungkin akan banyak yang ngiri karena saya mimpi lagi dikerubutin cewek-cewek cantik yang juga para Railfans (he..he..)

Pukul 04.35 KA 172 Serayu IV memasuki Stasiun Tasikmalaya dan menunggu cukup lama disini karena harus bersilang dengan KA 37 Turangga yang juga datang telat di Stasiun ini dengan Double Traksi pula. (ada apa dengan Lokomotif kita?)

Kopi dan Mie Instan menjadi jajanan paling laris di stasiun ini. Suasana yang begitu hening dan suhu udara yang beda jauh dengan Bekasi/Jakarta membuat sebagian penumpang merasa wajib untuk menghangatkan badan. aku juga gak mau ketinggalan. Dengan hanya merogoh kocek Rp. 3.000 kopi sudah bisa saya dapatkan meskipun dengan gelas dan air seadanya. Tapi lumayan lah untuk mengganti cairan tubuh yang keluar menjadi keringat karena rasa gerah yang mendera sepanjang perjalanan.


05.00 Kereta memasuki sepur 2 (lurus) Stasiun Manonjaya.

Ting ! Aha ! barulah muncul ide untuk menelusuri jejak Stasiun Cirahong yang ada di Peta Kuno. Sekalian pengen jajakin melewati Jembatan Cirahong yang unik aku pun memutuskan untuk turun disini dengan segala kerendahan hati (apa hubungannya?). setelah sempat jeprat-jepret kesana kemari.


Sekedar Tau aja, saya memang wong cherbond. Tetapi di dalam tubuh saya mengalir darah tatar bumi parahyangan. Orang tua saya berasal dari Tasikmalaya. Kakek saya berasal dari Bojong (Ciamis) dan nenek saya dari Manonjaya. Mereka menikah dan di karuniai 4 orang anak. Dan ayah saya (Alm) adalah anak Kedua yang pada masa mudanya juga seorang petulang & Railfans yang nyasar sampe ke Cirebon dan bertemu dengan Ibu saya lalu menikah dan menetap disana.

Kecintaan saya terhadap kereta api disebabkan oleh banyak factor, selain karena factor keturunan (Bapak Railfans bojong yang suka nglindes paku & Jalan-jalan keliling jawa dengan KA), juga karena factor cinta itu sendiri.

Pertama kalinya saya jatuh cinta adalah di kereta api. Tepatnya di KA Fajar Utama Semarang dalam perjalanan ke Cirebon. Padahal saat itu saya adalah seseorang yang Anti Wanita. Tapi bagian yang ini gak perlu diceritain. Soalnya udah melenceng dari judul.

Masih sempet Nyubuh di Masjid yang terletak di depan Stasiun namun Manonjaya perjalanan tidak serta merta dilanjutkan menuju Cirahong Via JPL Cineam. Tak jauh dari Stasiun ini ada Rumah Nenek dari pihak Ayah. Setelah pencat-pencet HP untuk mengabari kesana kemari (terutama ke pacar yang selalu WAS-WAS) bahwa saya telah sampai di Manonjaya, saya lanjutkan kaki saya untuk menelusuri sisa-sisa kenangan masa kecil sewaktu masih tinggal disini. Mutar muter ngalor ngidul kaya orang bingung bahkan sampe jadi pusat perhatian cewek-cewek SMA yang pada minta kenalan dan Nomor HP (suer, tapi bagiku gak aneh, wajarlah…Pisss man)

Dengan menggunakan angkot cineam (udah males jalan) saya bergerak menuju rumah nenek yang Cuma berjarak beberapa puluh meter. Sesampainya disana ternyata orang rumah pada sibuk dengan urusannya masing-masing sampe-sampe kedatangan saya tidak ada yang mengetahui. Ada yang masak, mandiin anak, manasin motor, dll.

Dengan wajah lemas (& cakep) saya langsung merebahkan badan yang tinggal beberapa % lagi stamina tersisa ke Sofa di ruang tamu dan tertelep disana. Setelah terbangun di meja sudah tersedia makanan ringan air putih dan teh hangat. Lalu kami pun ngobrol panjang lebar tentang kabar masing-masing. Maklum, saya adalah satu-satunya penghubung antara blok cherbond dengan blok tasik, kondisi kesehatan ibunda tidak memungkinkan lagi untuk bepergian jauh apalagi harus melintasi perbukitan dengan jalan berliku sepanjang Cirebon – Kuningan – Tasik. Begitu juga sebaliknya. Nenek yang usianya sudah senja tak lagi bisa berkunjung ke Cirebon untuk menengok cucunya.


Rumah Nenek

Setelah menginap semalam di rumah nenek, Perjalanan menuju Cirahong saya lanjutkan dengan berjalan kaki. Suasana sepanjang Jalan Raya Tasik – Banjar memang tidak banyak yang berubah. Maklum pembangunan disini terasa sangat lamban. Dari dulu sampe sekarang, jarak antar rumah masih berjauhan hanya diselingi perkebunan yang sebagian besar ditanami (tumbuh sendiri) salak dan beberapa tumbuhan-tumbuhan dapur.


Pintu Perlintasan Cineam

Masih tertalu dini untuk sampai di perlintasan 371 Cineam yang terletak di KM 281 +453 antara Stasiun Manonjaya dan Ciamis. Perlintasan tersebut dijaga oleh Pak Dedih. Beliau sudah mengabdi selama 28 tahun untuk PT KAI. aku sempat menanyakan jarak dan sejarah daerah sekitar Cirahong. Katanya beberapa waktu yang lalu pernah ada yang syuting di jembatan tersebut entah darimana karena beliau sendiri tidak bisa melihat secara langsung karena harus menunaikan tugas mengamankan perjalanan Kereta Api


Jembatan Cirahon Dari Arah Barat Laut

Tahun 1894 jalur Jakarta – Surabaya mulai terhubung melewati Bogor – Bandung Tasik – Yogyakarta hingga Surabaya. Jembatan Cirahong sendiri dibangun terpaksa oleh Belanda karena adanya desakan dari Kanjeng Prabu RAA Kusumahdiningrat Bupati Galuh Ciamis ke XVI yang memerintah antara tahun 1839 1886. pada Saat itu sekitar tahun 1882 beliau sedang membangun kota Ciamis.


Kali Citanduy Dari Atas Cirahong


Jembatan Cirahong Tampak dari Timur Laut


Bagian bawahnya Bisa dilewati Kendaraan bermotor.

Pembangunan Jalur Tasik Banjar yang seyogyanya melewati Manonjaya – Cineam – Cimaragas dan terus sampai Banjar dihentikan sampai Manonjaya dan dibelokkan ke arah utara menuju Panyingkiran – Ciamis – Bojong – Karangpucung hingga Banjar. Walaupun untuk itu pemerintah belanda harus membangun dua jembatan yakni Jembatan Cirahong dan Jembatan Karangpucung. Jembatan Cirahong sendiri terletak di Ketinggian sekitar 75 meter dari permukaan Kali Citanduy antara Manonjaya – Panyingkiran.


Cirahong Tampak dari Selatan

Jembatan dengan Nomor BH 1290 ini cukup unik. Karena di bagian atasnya untuk dilintasi Ka sedangkan bagian bawahnya dalam kerangka besi untuk di lewati kendaraan bermotor. Mungkin tujuan dibuat tandem seperti itu adalah agar kereta Kencana san Bupati Galuh Ciamis bisa lewat untuk bertemu rakyatnya di pelosok-pelosok dan juga untuk mengangkut hasil bumi dari daerah sekitar Manonjaya (salak?) agar bisa di perjualbelikan di Pasar Ciamis. Selain membangun Pendopo, beliau juga membangun Pasar dan Sarana pendidikan).


Lumayan gopek ditabung buat Naik Haji

Jembatan Cirahong dijaga oleh minimal 2 orang. 1 orang ujung utara dan satu lagi di ujung selatan. Setiap kendaraan yang melintas diharuskan mengantri karena lebar jembatan yang Cuma muat untuk satu kendaraan jenis Carry. Para pengendara biasanya akan memberikan recehan seikhlasnya kepada para penjaga yang dengan sukarela mengatur perjalanan antara kendaraan yang melintas dari utara dan dari selatan.


Inilah jembatan yang paling dipuja oleh anggota TPRM

Kegagahan jembatan ini bisa dilihat dari gambar-gambar dibawah ini :


Seutuhnya ………


Ini dia Tiang Penyangganya (Q beri efek besi tempa, biar sangar….)


Coba bandingkan dengan Ukuran tubuh aku …


Atau dengan Anak-anak


Atau Bandingkan dengan Mobil yang sedang melintas didalamnya


Sempat diteriakin warga karena dikira mau bunuh diri


Sebenernya sih Takuuuuut. Kalo jatuh bisa remuk


Mejeng di Pengaman Tepi


Simetris


Karya Agung Para Pekerja Rodi. Terima kasih atas jasa kalian


Lengkungan Bawah

Ada yang berkesan sewaktu melintasi jembatan ini Pada saat melintas untuk yang pertama kali dari selatan ke utara saya berjalan di sisi barat sambil kadang- berjalan di tengah. Tidak terjadi apa-apa kecuali beberapa orang melihat dengan heran karena saya melintas seolah tanpa rasa takut sama sekali. Dengan santainya saya berjalan (padahal Ngeri juga kalo liat ke bawah) dan selamat. Tentu saja ini bukan acara konyol karena saya sudah mempertimbangkan kereta apa saja yang melintasi di jembatan ini termasuk jadwalnya. aku dapet informasinya dari Gapeka yang ada di JPL 371. sempet foto-foto diatas sana. Untunglah kemanapun saya pergi tak lupa membawa tripod dan kamera meski Cuma kamera pocket.

Barulah ketika melintas untuk kedua kalinya dari arah utara ke selatan tepatnya di sisi timur saya diteriaki oleh warga sekitar yang ada di dekat warung dibawahnya. Mungkin mereka mengira saya mau bunuh diri atau apalah. Tapi saya cuek saja sambil melambai-lambaikan tripod dan kamera saya. Akhirnya merekapun paham. Tapi masih salah paham karena saya dikira wartawan. He..hee…

Lelah, dan semuanya, terbayar sudah oleh kegagahan jembatan ini. Niatan untuk menelusuri jejak stasiun Cirahong dibatalkan. Karena menurut warga setempat Kondisinya sudah tidak ada sama sekali. Bahkan warga sekitarpun tidak banya yang tahu jika dulu didaerahya terdapat stasiun/pemberhentian.

aku putuskan untuk berbalik arah menuju Tasikmalaya. Sayu memang hobi jalan kaki melintasi rel. Entah kenapa, jalan di rel memiliki sensasi tersendiri. Memang apa yang saya lakukan melanggar Undang-undang perkeretaapian. Tapi yam au gimana lagi… disinilah hidup saya. Its My Life lah kalo kata Bon Jovi Mah.


Dari Cirahong Ke Manonjaya

Di stasiun Manonjaya saya numpang selonjor di Masjid yang ada di depannya sambil membersihkan Badan Karena keringatan. Sekalian juga mandi biar tambah cakep. He..he…

Setelah ganti pakaian dan istirahat, perjalanan saya lanjutkan menuju stasiun Awipari.
Dan Tasikmalaya. Lelah juga rasanya perjalanan kali ini. Namun semua itu tidaklah terlalu terasa karena justru hal-hal seperti inilah yang membuat saya lebih bersemangat lagi baik dalam bekerja maupun dalam menjalani kehidupan sehari-hari.


Melintasi Awipari

Mamasuki Stasiun Tasiklamaya tepat ketika matahari berada diatas kepala. Sempat berfoto-foto dengan Kereta Kerikil (Keri ning sikil), dan bangunan-banguna Tua disekitar stasiun. Tak lupa saya selalu membawa peta Ukuran besar 2,5 meter kemanapun saya pergi dan peta tersebut saya sumbangkan ke Stasiun Tasikmalaya. Diterima oleh Wakil KS Tasikmalaya. Aduh.. bapak siapa namanya saya lupa. Karena saya disana hanya mengobrol santai saja. Tanpa formalitas dan prosedur. Karena saya memang tidak terlalu suka dengan prosedur apalagi dipersulit oleh prosedur.


Mumpung lagi di Tasik, saya sempatkan untuk jalan-jalan ke kota santri ini sambil mencari oleh-oleh. Gak banyak sih yang saya beli selain barang-barang kerajinan. Dan makanan kecil. Produksi Home Industri setempat.

Ternyata angkot yang saya naiki melintasi Masjid Agung Tasikmalaya. akupun menyempatkan untuk berhenti disana untuk ambil duhur.


Demikian Sekelumit cerita tentang Cirahong yang sebenarnya masih panjang untuk dipaparkan.

Petualangan yang lain belum sempat saya tuangkan dalam tulisan berhubung waktu saya banyak habis untuk pekerjaan dan membuat ulang Peta Jalur KA di Indonesia. Jawa – Madura baru sampai 95 % sedangkan Sumatera baru 15% ada yang mau Bantu selesaikan Peta Jalur KA ini ?

Bisa hubungi saya di delharis@telkom.net ; tprm_cirebon@yahoo.com atau 021 91158394

Libur ????? Go Tracking !!!!!

Egief del Haris
TPRM – Cirebon, tinggal di Bekasi

6 responses to “Nongkrong di Cirahong

  1. mantap bro blog nya, sy jg tinggal di tasikmalaya, kbtulan sy jg penggemar nuansa antik, tp sy concern di motor tua, tp asyik jg tuch ekspedisinya jd kepengen ikut hehe, cb lokasi jalur banjar – pangandaran bro, ntu bnyak sisa2 rel yg mati jg terowongan2 yg di bangun, sayang fungsional sdh tdk ada, tp tidak ada salahnya kita cb angkat kembali, mdh2 pemrintah support u mmbngun kembali..
    salam

  2. subhanallah,.,., keren bro..,
    aku jg pecinta kereta api.,.,.,
    salam kenal ya.,,., kalo bs diperbanyak lg postingannya.
    trus kenapa gk dbahas juga ttg situs di sebelah kanan jembtn cirahong, kalo gk salah kan ada situs sejarah disitu.
    by the way,., keren,
    keep on rockin for railways.,.,

    • matur kesuwun sudah mampir,,,, ekspedisi memang tiada henti, tapi kesempatan untuk menulis sangat terbatas,,, kerjaan numpuk.. he..he…. silahkan berkunjung ke Facebok (tprm_cirebon@yahoo.com) saya untuk update posisi mblusukkan terbaru. trims

Tinggalkan Komentar :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s