Peletakan Stasiun

PERLETAKAN STASIUN KERETA API DALAM TATA RUANG KOTA-KOTA DI JAWA (KHUSUSNYA JAWA TIMUR) PADA MASA KOLONIAL

Apa yang anda baca merupakan saduran dari Bpk Handinoto
Staf Pengajar Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur – Universitas Kristen Petra

Perkeretaapian di Indonesia baru dimulai pada th. 1860 an. Perusahaan kereta api ditangani oleh dua instansi yaitu oleh pihak pemerintah (seperti: S.S – Staat Spoorwegen) dan pihak swasta (seperti :N IS – Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij, dan sebagainya). Seperti halnya di Eropa setelah revolusi industri, perletakkan stasiun sebagai suatu jenis bangunan baru, menjadi sangat penting dalam tata ruang kota.

Dengan makin majunya perkeretaapi an di Indonesia pada awal abad ke 20, yang hampir mencapai seluruh kota di Jawa, maka penempatan stasiun kereta api baik di kota-kota besar maupun kota Kabupaten menjadi suatu pemikiran yang penting. Pada akhir abad ke 19 dan abad ke 20, angkutan dengan kereta api, menjadi salah satu sarana yang sangat penting, baik angkutan barang maupun manusia. Tapi pada bagian kedua abad 20, setelah kemerdekaan, karena kemajuan jalan darat, peran kereta api menjadi menurun, sehingga stasiun kereta api menjadi merana. Di akhir abad 20, karena padatnya arus lalu lintas jalan darat di P. Jawa, peran kereta api menjadi hidup kembali. Kota-kota pada umumnya telah berkembang pesat, sehingga letak stasiun kereta api yang dulunya telah dipikirkan dengan sangat baik sekali dalam tata ruang kotanya, sekarang menjadi masalah dalam pengaturan lalu lintas kota. Tulisan ini membahas tentang perletakkan stasiun kereta api dimasa lampau sebagai masukan dalam pemikiran perkembangan kota-kota di Jawa untuk masa mendatang

Jaringan jalan kereta api di Jawa dibangun antara th. 1870 an sampai th. 1920 an. Sebenarnya gagasan pembangunan jalan kereta api di Jawa sudah muncul sejak th. 1840, tapi gagasan tersebut baru menjadi kenyataan pada th. 1871. Jalur pertama jalan kereta api di Jawa adalah antara Semarang dengan Kedung Jati, yang diresmikan pada th. 1871 (lihat gb.no.1). Kemudian disusul dengan jalur Batavia-Buitenzorg (Jakarta-Bogor) yang dibuka pada tahun 1873 dan menyusul jalur Surabaya-Pasuruan pada th. 1878. Pada th. 1884, diselesaikan jalur Buitenzorg-Bandung (Bogor-Bandung), dan kemudian disusul hubungan Surabaya-Solo dan Semarang. Sepuluh tahun kemudian pada th1894, jalur jalan kereta api Surabaya-Batavia melalui Maos, Yogyakarta dan Solo berhasil diselesaikan. Dan pada th. 1912 jalur alternative kedua antara Surabaya-Batavia, melalui Cirebon dan Semarang berhasil diselesaikan. Sesudah itu jalur-jalur sekunder juga mulai dibangun. Di sebelah barat, diselesaikan jalur dari Anyer ke Labuan. Sedangkan disebelah timur sampai Panji dan Banyuwangi. Jaringan kereta api di Jawa merupakan salah satu jaringan yang terlengkap di Asia (Lombard, Jilid 1:139) (lihat gb.no.2). Langkah selanjutnya dengan adanya jaringan kereta api tersebut adalah penempatan stasiun kereta api pada kota-kota yang di lewatinya. Kecenderungan yang paling mudah untuk perletakan stasiun kereta api adalah di pusat kota, supaya mudah di jangkau oleh penumpang dari berbagai penjuru kota. Tapi peruntukkan tanah dan lalu lintas ditengah kota yang sudah ada kadang-kadang merupakan kendala bagi perletakan bangunan stasiun yang belum terpikirkan sebelumnya. Penempatan stasiun kereta api di kota-kota di Jawa masa lalu pada umumnya berhasil dengan baik. Seperti stasiun kota di Bandung, Tegal, Probolinggo, Pasuruan, Malang, Jombang dan sebagainya. Keberhasilan penempatan ini juga didukung dengan sosok bangunannya sendiri yang berhasil memancarkan pesannya keseluruh penjuru kota sesuai dengan misi stasiun itu sendiri. Sekarang banyak timbul masalah pada perletakan stasiun lama yang menghubungkan antar kota tersebut, karena perkembangan kota yang tak terkontrol. Sehingga kehadiran stasiun kota lama tersebut, sering menjadi masalah perkotaan tersendiri. Tulisan ini membahas tentang perletakan stasiun kereta api pada awal perkembangannya, untuk diijadikan pemikiran bagi perkembangan yang akan datang

SISTIM JALUR JALAN KERETA API DI JAWA.
Seperti halnya kota-kota di Eropa setelah revolusi industri, maka stasiun kereta api merupakan hal yang baru bagi dunia bangunan di Jawa. Kalau jalur jalan kereta api di Eropa pada umumnya yang menuju pusat kota biasanya melalui bawah tanah (subway), maka seluruh jalur jalan kereta api yang ada di Jawa, mungkin karena alasan teknologi, sepenuhnya berada diatas tanah. Oleh sebab itu maka ketika memasuki kota harus di usahakan jalur jalan kereta api tersebut sesedikit mungkin berpotongan dengan jalur jalan utama yang ada di tengah kota. Di usahakan jalur jalan kereta api sedapat mungkin sejajar dengan jalan-jalan utama kota, supaya tidak terjadi perpotongan atau persilangan yang membahayakan pengendara kendaraan bermotor atau pejalan kaki. Pada tempat-tempat tertentu bahkan dibuat jalan layang (viaduct), untuk menghindari persimpangan antara jalan raya dan jalan kereta api.

Dari segi tata ruang kota, perletakan stasiun kereta api harus dibuat sedemikian rupa sehingga penumpang atau barang dari stasiun dapat mencapai seluruh penjuru kota dengan mudah. Seperti halnya dengan berbagai kota di Eropa, kebanyakan stasiun kereta api disana diletakkan di pusat kota, dengan alasan seperti diatas. Kesulitan perpotongan jalur kereta api dan jalan raya utama di kota dipecahkan dengan menempatkan jalur kereta api tersebut dibawah permukaan tanah. Di Jawa justru tantangan crossing antara jalur kereta api dan jalan raya kota ini yang harus diatasi kalau stasiun harus diletakkan dipusat kota. Itulah sebabnya perletakan stasiun kereta api di Jawa punya masalah sendiri yang cukup unik dari segi tata ruang kotanya.

FUNGSI BANGUNAN STASIUN KERETA API
Seperti yang telah dijelaskan didepan bahwa bangunan stasiun kereta api merupakan bangunan yang baru muncul setelah th. 1870 di
Jawa. Fungsi bangunan stasiun kereta api dapat diperinci sebagai berikut :
1. Sebagai tempat kereta api berhenti. Menurunkan penumpang (manusia atau bisa juga hewan) dan barang.
2. Sebagai tempat kereta api berangkat. Mengangkut penumpang (manusia atau bisa juga hewan) dan barang.
3. Sebagai tempat kereta api bersilang, menyusul atau disusul.

Semua kegiatan tersebut berada dibawah penguasaan seorang kepala yang bertanggung jawab penuh atas urusan perjalanan kereta.

Sedangkan bangunan stasiun kereta api itu sendiri pada umumnya terdiri atas bagian-bagian sebagai berikut (Triwinarto, 1997:94):
1. Halaman depan/Front area. Tempat ini berfungsi sebagai perpindahan dari sistim transportasi jalan baja ke sistim transportasi jalan raya atau sebaliknya.
Tempat ini berupa:
– terminal kendaraan umum.
– parkir kendaraan.
– bongkar muat barang.
2. Bangunan Stasiun. Bangunan ini biasanya terdiri dari :
– ruang depan (hall atau vestibule)
– Loket
– Fasilitas administratif (kantor kepala stasiun & staff)
– Fasilitas operasional (ruang sinyal, ruang teknik)
– Kantin dan toilet umum.
3. Peron. Yang terdiri atas:
– Tempat tunggu
– Naik-turun dari dan menuju kereta api.
– Tempat bongkat muat barang.
Bagian ini bisa beratap atau tidak.
4. Emplasemen. Yang terdiri atas:
– Sepur lurus.
– Peron
– Sepur belok sebagai tempat kereta api berhenti untuk memberi kesempatan
kereta lain lewat.

Melihat fungsinya yang seragam maka banyak bangunan stasiun kereta api di Jawa dirancang dengan prototype yang sama menurut tingkat besar kecilnya stasiun tersebut. Misalnya stasiun untuk kota Kabupaten, punya prototype yang sama, demikian juga dengan stasiun untuk kota-kota yang setingkat. Stasiun yang dibangun sebelum tahun 1900, kebanyakan bergaya arsitektur “Indische Empire”, dengan ciri-ciri seperti : teras depan yang luas, gevel depan yang menonjol, kolom-kolom gaya Yunani yang menjulang keatas, dan sebagainya. Contohnya seperti stasiun Pasuruan. Setelah tahun 1900 gaya arsitekturnya berubah dengan drastis. Contohnya seperti kantor pusat NIS (Nederlandsch Indische Spoorweg Mij) di Semarang, yang dibangun th. 1902 (arsiteknya J.F. Klinkhamer dan B.J. Quendag). Kantor/stasiun Chirebon-Semarang Stoomtram Maatscahppij di Tegal, yang dibangun th. 1914 (arsiteknya Ir. H. Maclaine Pont), sudah tidak bergaya “Indische Empire” lagi.

STUDI KASUS PERLETAKAN STASIUN KERETA API PADA BEBERAPA KOTA DI JAWA TIMUR.
Jalur jalan kereta di Jatim dimulai awalnya dari jalur Surabaya-Pasuruan , yang diresmikan pada tgl. 16 Mei 1878. Cabang Bangil-Malang diresmikan pada tgl. 20 Juli 1879. Kemudian disusul jalur-jalur berikutnya seperti: Cabang
Sidoarjo-Madiun (dari Sidoarjo-Mojokerto: 16 Oktober 1880)-Mojokerto (1 Juli 1882)-Kediri-Blitar (16 Juni 1884). Jalur dari Pasuruan ke timur sampai ke Probolinggo sepanjang 40 km selesai dibangun pada th. 1884. Pada th. 1895 rel tersebut diperpanjang lagi sampai Probolinggo-Klakah. Th 1896 dibangun jalur cabang-cabang ke Lumajang, Pasiran kemudian di teruskan sampai ke Jember, Bondowoso dan terus sampai pelabuhan Panarukan sepanjang 151 km. Semua ini di selesaikan th. 1897. Dengan demikian sampai th. 1900, hampir semua kota-kota di Jatim sudah dihubungkan dengan baik oleh jalur kereta api. Sebagai studi kasus untuk perletakan stasiun kereta api pada kota-kota di Jawa Timur diambil secara acak beberapa kota yang pembangunannya antara th. 1880 an. Kota-kota tersebut antara lain adalah : Pasuruan, Probolinggo, Malang dan Kediri.

PERLETAKAN STASIUN KERETA API DI PASURUAN
Stasiun kereta api Pasuruan termasuk salah satu stasiun yang tertua di Jawa Timur. Jalur kereta api Surabaya Pasuruan dibangun th. 1878. Karena Pasuruan dilalui oleh jalan raya pos (grotepostweg- sekaligus sebagai jalan arteri primair bagi kota Pasuruan), yang menghubungkan kota-kota pantai Utara Jawa, maka jalan kereta api yang memasuki kota Pasuruan diletakkan sejajar dengan jalan utama tersebut.
Letak stasiun tegak lurus, disebelah Utara dari jalan raya utama kota (jalan arteri primair) tersebut, yaitu Jl. Sukarno-Hatta. Jalan tegak lurus yang menghubungkan stasiun kota dengan jalan Sukarno-Hatta (jalan arteri primair) tersebut dinamakan Jl. Stasiun (sama dengan nama jalan di kota Kediri dan banyak kota lainnya). Disebelah Timur dari stasiun tersebut terdapat pasar. Pengelompokan : Stasiun kereta api, pasar dan pangkalan kendaraan umum, merupakan ciri khas kota-kota yang punya stasiun kereta api di Jawa. Di kota-kota pesisir seperti Surabaya, Pasuruan, Probolinggo dan sebagainya, stasiun kereta api selalu dihubungkan dengan pelabuhan. Karena salah satu tujuan penting jaringan kereta api di Jawa memang untuk pengangkutan barang. Terutama hasil perkebunan.
Dipandang dari tata ruang kota maka perletakkan stasiun kereta api Pasuruan tersebut sangat strategis sekali. Karena:
– Dengan mudah (dan dekat) dapat mencapai seluruh penjuru kota (baik daerah hunian, pusat kota, maupun pelabuhan). Karena sangat dekat dengan jalan arteri primair kota.
– Tidak banyak crossing dengan jalan-jalan utama kota.
– Kehadiran stasiun tidak mengganggu lingkungan sekitarnya.
Dari segi arsitektur kota perletakan stasiun tersebut cukup baik karena letaknya tegak lurus di tengah-tengah jalan arteri primair kota (Jl. Raya Sukarno-Hatta). Hanya sayangnya jarak jalan yang tegak lurus jalan arteri primair kota tersebut terlalu pendek sehingga kesan bangunan stasiun kota sebagai ”focal point” menjadi kurang terasa.

PERLETAKAN STASIUN KERETA API DI PROBOLINGGO
Pereletakan stasiun kota Probolinggo, adalah salah satu contoh terintegrasinya perletakan stasiun dengan tata ruang kotanya secara keseluruhan. Sumbu utama kota adalah Jl. Suroyo (Heerenstraat- dulu jalan arteri utama kota Probolinggo), yang membentang dari Utara ke Selatan (lihat Gb.no.4). Bangunan stasiun terletak di akhir jalan sebelah Utara dari sumbu
kota tersebut. Sehingga kesan monumental bangunan stasiun sebagai “focal point” dari daerah tersebut sangat kuat sekali. Seperti halnya dengan semua kota pelabuhan maka stasiun Probolinggo tersebut juga berhubungan langsung dengan pelabuhan. Letak pelabuhan yang ada di belakang stasiun tersebut justru tidak menggangu kehadiran bangunannya yang menghadap ke arah kota. Stasiun kota di Probolinggo benar-benar terlihat sebagai bangunan yang seolah-olah memancarkan pesannya keseluruh penjuru kota.
Dari segi arsitektur kota, perletakan stasiun Probolinggo ini, benar-benar memenuhi persyaratan. Kesan monumental bangunan stasiun ini di perkuat dengan adanya alun-alun kota yang letaknya tepat didepan stasiun tersebut.

PERLETAKAN STASIUN KERETA API DI MALANG
Perletakan stasiun kota Malang sangat strategis dari segi tata ruang kotanya. Stasiun kota Malang berorientasi kepada alun-alun bunder. Alun-alun bunder adalah lambang dari pusat kota Malang yang baru (setelah th.1925). Rencana pembuatan jalan Timur–Barat kota Malang sebagai jalan arteri utama dibuat untuk mengimbangi jalan arteri primair (Jl. Jaksa Agung Suprapto ke Selatan). Stasiun kota nya terletak diujung Timur (menghadap ke arah barat) dari jalan arteri utama kota yang membujur dari arah Timur ke Barat. Jadi kalau kita berjalan dari alun-alun bunder kearah Timur maka bangunan stasiun ini kelihatan sebagai suatu “focal point” (lihat Gb.no.5). Jalan didepan
stasiun kota tersebut dulu rencananya dibuat sebagai suatu boulevard, yang dinamakan Daendels boulevard. Tapi sayangnya rencana itu tidak pernah terealisasi. Tapi dari segi arsitektur kota, perletakan stasiun tersebut sangat strategis sekali. Dari segi arsitektur kota perletakan stasiun Malang ini. Mirip dengan konsep perletakan stasiun di Bandung.

PERLETAKAN STASIUN KERETA API DI KEDIRI.
Kota Kediri secara keseluruhan dibelah menjadi dua oleh sungai Brantas yang melewati kotanya. Pada jaman kolonial kota sebelah Barat sungai diperuntukan bagi daerah pemerintahan dan pendidikan. Sedangkan kota disebelah Timur sungai merupakan kota lama yang terdiri dari Pecinan yang terletak ditepi sebelah Timur sungai (sekarang Jl. Jos Sudarso), fasilitas pertokoan dan perkampungan orang Pribumi setempat. Stasiun kotanya terletak dibagian Timur kota. Jalan utama kota adalah Jl. Dhoho (jalan arteri utama kota), yang merupakan daerah fasilitas pertokoan. Letak stasiun kotanya dihubungkan dengan jalan yang tegak lurus dengan jalan utama kota (Jl. Dhoho). Nama jalan yang tegak lurus tersebut juga Jl. Stasiun. Letak bangunan stasiun ini tepat diujung Jl. Stasiun (menghadap ke arah Barat), yang kelihatan sebagai “focal point” dari jalan tersebut. Konsep perletakan seperti ini mirip dengan perletakan stasiun Pasuruan. Hanya di Pasuruan jarak jalan Stasiunnya terlalu pendek sehingga kesan monumental bangunan nya kurang terasa

KESIMPULAN SEBAGAI SUATU DISKUSI
Dari beberapa studi kasus diatas dan pengamatan atas perletakan stasiun di banyak kota di Jawa Timur, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Stasiun kota adalah gedung yang memegang peran istimewa dalam suatu kota. Oleh sebab itu perletakannya harus dipertimbangkan secara masak. Karena stasiun kota dengan misinya yang mulia harus dapat memancarkan pesannya keseluruh penjuru kota. Oleh sebab itu stasiun kota berhak menduduki tempat yang baik sekaligus indah. Itulah sebabnya stasiun kota selalu diletakkan pada jalur-jalur jalan arteri utama kota. Dan kalau memungkinkan letaknya bisa menjadi “focal point” dari lingkungannya. Contoh yang berhasil adalah stasiun kota seperti : Bandung, Malang, Probolinggo, Kediri dan sebagainya.
2. Dari studi kasus terhadap perletakan 4 stasiun kota diatas (Pasuruan, Probolinggo, Malang dan Kediri) dapat disimpulkan ada dua cara untuk mencapai tujuan supaya bangunan stasiun tersebut berkesan sebagai bangunan yang dapat memancarkan pesannya keseluruh penjuru kota. Yang pertama, meletakkan bangunan di bagian paling ujung dari jalan arteri primair atau arteri utama kota (Probolinggo, Malang dan banyak kota lainnya). Yang kedua membuat jalan arteri sekunder yang tegak lurus jalan arteri primair kota, kemudian di ujung jalan diletakkan bangunan stasiun tersebut (Kediri, Pasuruan dan banyak kota lainnya). Untuk menambah kesan monumental biasanya didepan bangunan terdapat ruang luar kota seperti alun-alun, atau ruang terbuka lainnya.
3. Karena sistim rel kereta api di Jawa ada diatas tanah, pada waktu memasuki kota, supaya tidak banyak mengalami crossing, maka jalan kereta api pasti memilih di pinggiran (batas) kota. Hal ini sering menjadi problema bagi pemekaran kota di kemudian hari. Kasus seperti ini terjadi di berbagai kota di Jawa, seperti Surabaya dan kota-kota besar lainnya. Setelah kemerdekaan, jalan darat mengalami kemajuan pesat sehingga angkutan penumpang kereta api menjadi terpuruk. Hal ini berakibat langsung terhadap kehadiran stasiun kereta api, sehingga kurang mendapat perhatian. Banyak stasiun kereta api di Jawa karena perannya yang menurun, dan perubahan arah jalan serta ketidakmengertiannya pengelola kota atas peran stasiun ini terhadap arsitektur kota, keadaannya sekarang cukup memprihatinkan. Baik perletakannya (karena perubahan arah lalu lintas maupun perubahan pintu masuknya) maupun keadaan bangunannya. Kota memang tidak dibangun oleh satu generasi, tapi tidak berarti tatanan yang dibangun oleh generasi lainnya bisa dirusak begitu saja tanpa alasan yang jelas, atau mungkin karena ketidak tahuannya ? Sekali lagi hal ini menunjukkan perlunya akan pengetahuan sejarah kota masa lalu, untuk menjaga adanya kontinuitas.
Kegagalan sering terjadi karena ingin menciptakan sesuatu yang baru, tanpa memahami tatanan lama yang sudah ada

Handinoto
Staf Pengajar Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur – Universitas Kristen Petra

Tinggalkan Komentar :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s